Selasa, 08 Juli 2014

Cara menyemai benih Pedada (Sonneratia sp.)

Sebelum beranjak ke teknis pembibitan Pedada, saya akan bercerita sedikit mengenai pentingnya kita menanam dan memelihara ekosistem Mangrove. Dan berdasarkan penelitian teman-teman saya, ternyata jenis pepohonan mangrove bisa ditanam di lahan basah di luar wilayah pesisir. Ini merupakan suatu kesempatan yang bagus bagi yang suka dengan kegiatan menanam. Karena lahan untuk penanaman semakin berkurang dan lahan basah dipinggiran sungai atau danau yang cukup dangkal mungkin bisa dimanfaatkan. Berikut ini merupakan pentingnya kita memelihara kawasan lahan basah terutama ekosistem mangrove. 
Kawasan pantai merupakan kawasan yang mempunyai pemandangan yang indah misalnya saat kita menikmati deburan ombak, suasana sunset dan sunrise, dan kapal-kapal yang berlayar. Begitu juga dengan kondisi vegetasi alami di kawasan pesisir pantai. Vegetasi alami penyusun ekosistem di pantai salah satunya adalah mangrove.
Hutan mangrove merupakan hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut, yakni tergenang pada waktu pasang dan bebas genangan pada waktu surut (SK Dirjen Kehutanan No. 60/Kpts/Dj./I/1978). Dari kondisi vegetasi, kata mangrove digunakan untuk menyebut masyarakat tumbuh-tumbuhan dari beberapa spesies yang mempunyai perakaran Pneumatophores dan tumbuh di antara garis pasang surut.
Hutan mangrove tumbuh di bagian hutan tropis dunia. Di Indonesia pada tahun 1982 luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan sekitar 4,25 juta ha yang terdapat di sepanjang pesisir pulau-pulau besar (FAO 1982). Pada tahun 1987 diperoleh informasi bahwa hutan mangrove tersebut telah berkurang dan hanya tersisa seluas 3,24 juta ha, bahkan berdasarkan survey pada tahun 1995 luas hutan mangrove di Indonesia hanya tersisa 2,06 juta ha (Susilo 1995 dalam Arief 2003).
Manfaat hutan mangrove sangat besar bagi kehidupan manusia. Manfaat tersebut di antaranya adalah pada fungsi fisik menjaga garis pantai agar tetap stabil, menahan sedimentasi, menahan instrusi air laut; pada fungsi kimia sebagai penyerap karbondioksida, pengolahan bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan kapal-kapal di lautan; pada fungsi biologis sebagai kawasan pemijahan spesies udang, ikan, kepiting, kerang, dll, habitat burung dan satwa liar, sumber plasma nutfah, dll.
Begitu besarnya manfaat hutan mangrove namun setiap tahun malah terjadi penurunan luas kawasan karena bermacam-macam kepentingan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya penanaman dan pemeliharaan kembali kawasan mangrove yang sudah rusak maupun menjaga kawasan yang masih bertahan. Berikut ini saya akan berbagi pengalaman teknis menyemai salah satu jenis tumbuhan penyusun mangrove yaitu Sonneratia alba yang saya kumpulkan buahnya dari kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara. Rencananya jika bibit ini berhasil tumbuh akan saya tanam dilokasi lahan basah dekat rumah saya.

Kawasan wana wisata mangrove Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara
 


Beranjak ke teknik silvikultur jenis Pedada, berikut ini adalah teknik menyemainya.
1.      Pengumpulan buah
Buah yang matang umumnya berdiameter 35-40 mm. Buah yang telah matang tersebut akan terlepas dari kelopaknya dan jatuh dengan sendirinya (Wibisonso dkk 2006). Buah yang saya kumpulkan di lapangan merupakan buah yang sudah jatuh di tanah dan daging buahnya lunak.
Pedada (Sonneratia sp)
Buah Pedada

2.      Ekstraksi
Buah yang telah diseleksi kemudian dilakukan ekstraksi biji. Ekstraksi dilakukan dengan cara basah yaitu merendam buah, mengaduk-aduk, dan meremas buah sehingga bijinya terlepas kemudian dilakukan pemisahan sisa buah dengan biji dengan cara dibilas dan disaring.

Ekstraksi benih Pedada

3.      Perlakuan pematahan dormansi.
Untuk merangsang perkecambahan, biji direndam dalam air bersih dan diletakkan di tempat teduh. Biji akan berkecambah pada 5-7 hari.
Biji yang berkecambah

4.      Penyemaian
Selanjutnya benih dilakukan penaburan di bedeng tabur, selama sekitar 1-2 minggu akan keluar semai dan waktu jumlah daun mencapai 2 pasang benih siap dilakukan penyapihan. Penyapihan dilakukan dengan media tanah lumpur.
Penyemaian, masih dalam proses menunggu pertumbuhannya, hehe


Sudah dulu sharingnya ya soalnya pengamatannya baru sebatas penyemaian benih, untuk pemeliharaan di persemaian sama penanaman di lapangan masih dalam proses yang berlanjut.

MARI SELAMATKAN ALAM BERSAMA

Sekian Dan Terimakasih

Daftar Pustaka

Wibisono ITC, Priyanto EB, Suryadiputra INN. 2006. Panduan Praktis Rehabilitasi Pantai: Sebuah Pengalaman Merehabilitasi Kawasan Pesisir. Bogor (ID): Wetlands International Indonesia Programme.
Arief A. 2003. Hutan Mangrove: Fungsi dan Manfaatnya. Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius

Jumat, 07 Februari 2014

Jalan-jalan Pagi Hari

Pagi-pagi dengan suasana segar, saya jalan-jalan di sekitar kampus untuk menikmati pagi ini. Jarang-jarang saya melakukan jalan-jalan pagi. Biasanya hanya tidur di atas kasur dan jarang bergerak. Jalan-jalan pagi kali ini juga melakukan foto-foto lingkungan sekitar yang indah. Memang Subhanallah indahnya bumiku ini....

Gambar 1 Pucuk pohon khaya (Khaya anthoteca)


Gambar 2 Tumbuhan harendong bulu (Clidemia hirta)
Gambar 3 Bunga apa ya ?


Gambar 4 Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
Gambar 5 Bunga Asoka


Gambar 6 Tanaman manglid (Manglietia sp.)
yang saya tanam
Gambar 7 Pucuk tanaman manglid
Gambar 9 Tanaman saga (Adenanthera pavonina)
yang saya tanam dulu (klik) sudah setinggi
saya
Gambar 8 Tanaman khaya yang saya tanam

Kamis, 23 Januari 2014

Hujan dan Banjir

sumber: klik
sumber: klik
                                     









Disaaat yang seperti ini, sudah tidak aneh lagi kalau kebanyakan orang ngomel-ngomel karena kondisi cuaca yang mendung setiap hari. Pasti, karena cuaca mendung dan hujan membuat aktivitas-aktivitas menjadi kurang bergerak bahkan berhenti, setipa orang yang pergi keluar rumah pasti siap-siap akan terguyur hujan setiap waktu karena cuaca setiap harinya hujan reda berulang-ulang dan akan mengeluh kalau bajunya menjadi basah atau urusan menjadi gak selesai. Begitu juga dengan jemuran yang tidak kunjung kering. Hujan juga menjadi masalah yang besar terhadap wilayah yang menjadi langganan banjir seperti Jakarta, masyarakat dan pemerintah pasti sedang berpusing-pusing mengantisipasi dan menghadapi banjir yang setiap saat akan menerjang ibu kota ini.

Banjir secara rutin terjadi di kota Jakarta. Tidak tahu kenapa, tapi memang sudah menjadi budaya tahunan. Mengapa setiap tahun sering terjadi banjir ? menjawab pertanyaan ini susah dan kompleks. Ada yang mengatakan bahwa salah orang di wilayah hulu terutama wilayah Bogor dan Puncak karena hutan di wilayah ini dibabat untuk dijadikan villa sehingga area serapan air menjadi berkurang, tetapi kebanyakan villa di puncak itu milik orang Jakarata, jadi siapa yang salah ? I don’t know. Ada yang mengatakan banjir disebabkan karena pinggiran sungai-sungai di Jakarta diurug untuk dibuat bangunan sehingga apabila hujan turun maka air kan mudah meluber ke mana-mana karena sungainya menjadi sempit. Ada juga yang bilang banjir disebabkan oleh sampah-sampah yang menumpuk di sungai sehingga menghambat aliran sungai dan menyebabkan air meluber. Jadi siapa yang salah ? apakah pemerintah ?. jangan semata-mata menyalahkan pemerintah karena pemerintah juga pasti berpusing-pusing mengurusi masalah banjir itu.

Apabila kita tinjau di Al Quran , hujan itu merupakan rahmat Allah SWT yang diturunkan kepada umat manusia agar manusia dapat mengambil manfaatnya. Tetapi mengapa hujan menjadi bencana, mengapa banjir melanda. Menjawab pertanyaan ini secara mutlak itu susah, tapi dapat dijawab melalui beberapa pendekatan. Banjir disebabkan salah satunya karena wilayah hulu terganggu karena disebabkan berdirinya banyak perumahan, kondisi pemukiman ini memang bisa disalahkan secara pasti karena setiap orang pasti butuh rumah dan lahan untuk kehidupannya, untuk hal ini membatasi pertumbuhan penduduk menjadi hal yang penting karena pertumbuhan penduduk yang meningkat juga dipastikan keperluan akan lahan juga meningkat. Pendekatan kedua adalah budaya, menumbuhkan budaya hidup sehat, bersih, dan mencintai alam itu sangat penting. Mulai dari hal yang kecil seperti membuang sampah pada tempatnya itu sangat penting, budaya ini sangat sulit untuk diterapkan oleh orang-orang kita, bagaimana menerapkan budaya ini dengan tepat, pendidikan lah yang memegang peranan penting, terutama pendidikan moral, banyak orang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi tetapi moralnya kurang sehingga memandang rendah budaya ini, tidak seperti di negara-negara yang sudah maju dimana budaya membuang sampah di tempatnya menjadi hal yang sangat penting bahkan terdapat sanksi apabila ketahuan membuang sampah sembarangan. Yang terpenting ingatlah bahwa membuang sampah itu akan menjadikan lingkungan kotor, banjir, dan merugikan orang lain. Jadi merugikan orang lain itu tidak baik dan dosa, oleh karena itu jangan membuang sampah sembarangan.

Pendekatan selanjutnya adalah cinta lingkungan. Kebanyakan orang-orang sekarang beranggapan yang penting bisa hidup enak dan mantap bodoh amat dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Hal inilah yang sulit menciptakan budaya bersih. Cinta lingkungan dapat diterapkan contohnya dengan menanam pohon, ini dapat diterapkan di wilayah yang tidak padat tapi bagaimana mau menanam pohon kalau gak ada lahan sama sekali karena udah habis dengan bangunan? Hal ini merupakan dilemma yang sulit juga. Sebenarnya area pinggiran kanan kiri sungai itu seharusnya dibiarkan menjadi hutan atau tempat menanam pohon minimal 10 m. Sungai Ciliwung seharusnya wilayah pinggirannya berupa hutan untuk menjaga kelestarian sungai, sehingga ada tempat bagi orang untuk menyalurkan prinsip cinta lingkungannya. Tetapi pada kenyataannya tidak. Hal ini mungkin dapat dipertimbangkan oleh pemerintah maupun pengelola tata ruang untuk mempertimbangkan pembuatan hutan penyangga pinggiran sungai (riparian buffer zone forest) guna mencegah tingginya kerusakan banjir dan melestarikan sungai.

Yang terpenting adalah kita semua sebagai masyarakat Indonesia harus menerapkan budaya, bersih, sehat, dan cinta lingkungan karena alam sudah memperingatkan kita. Apakah kita masih menutup mata dan telinga kita serta acuh tak acuh melihat kondisi ini. Alam itu akan menjadi nyaman kita huni apabila kita juga berbuat baik terhadap alam.

Terimakasih